Jangan Pernah Menyerah Sebelum Mencoba

“Di dunia ini tidak ada yang pasti namun tidak ada yang tidak mungkin”, selama mimpi, niat dan usaha itu ada, mengubah mimpi itu untuk jadi kenyataan bukanlah hal yang tidak mungkin, itulah prinsip hidup saya. Jangan pernah menyerah sebelum mencoba, mencoba dan mencoba, hasil ada yang lebih berkuasa untuk menentukan.

Demikian halnya prinsip yang saya tanamkan untuk mengenyam pendidikan di Universitas Terbuka. Saya lulus dari SMA N 1 Sumbawa Besar-NTB (salah satu SMA Negeri favorit di daerah saya) pada Tahun 2005, dan saat itu saya ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di salah satu Universitas Negeri yang ada di Provinsi NTB, sambil menunggu hasil SPMB keluar, saya coba-coba untuk ikut Tes CPNS jalur umum kebetulan tahun itu adalah tahun terakhir penerimaan CPNS dengan menggunakan ijazah SMA/Sederajat. Beberapa bulan kemudian hasil SPMB pun keluar di ikuti oleh hasil seleksi CPNS, Alhamdulillah saya lulus kedua-duanya. Kendalanya adalah saya harus memilih, antara jadi PNS atau kuliah karena kabupaten saya berlainan pulau dengan universitas tempat saya diterima walaupun berada di satu Provinsi dan sesuai aturan kepegawaian pun tidak memperkenankan CPNS maupun PNS untuk kuliah jarak jauh, karena akan berpengaruh dengan kinerja kecuali mendapat Tugas Belajar, namun saat itu status saya masih CPNS sehingga memperoleh hak untuk untuk Tugas Belajar.

Berangkat dari pilihan yang berat tersebut, saya memutuskan untuk memilih menjadi PNS dengan niat untuk tetap kuliah walaupun harus kuliah di universitas swasta yang ada di kabupaten saya. Pada saat itu kebetulan saya sedang ke SMA tempat saya sekolah dulu untuk melegalisir ijazah dan saya bertemu dengan mahasiswa Universitas Terbuka yang sedang sibuk melihat ruang ujian akhir semester esok harinya, maka saya memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang dari mereka seputar tentang UT. Kagetnya!! jawaban pertama yang disuarakan oleh orang itu, “jangan kuliat di UT mas… masuknya gampang!! tapi keluarnya yang susah…, ini saya udah ngulang mata kuliah yang sama sampe 4 semester, tapi masih… aja dapat E”. Tapi karena masih penasaran, saya bertanya lagi apakah UT itu Negeri atau Swasta? Statusnya apa? Akreditasi gak? Jawabnya lagi “ Negeri si mas Cuma gak tau akreditasi pa gak ”. Pertanyaan terakhir yg saya keluarkan, daftarnya dimana ya? “Di Mataram Pak!” jawab orang itu sambil ngasi alamatnya ke saya. Saya merasa termotivasi untuk kuliah di Universitas Negeri tapi bisa dengan sistem jarak jauh, masalah gampang masuk dan susah keluar itu menurut saya relatif, jadi saya ingin membuktikan apa benar pernyataan orang tersebut kalau kuliah di UT itu susah banget nilai dan lulusnya.

Singkat cerita saya mulai kuliah di UT Tahun 2006 jurusan S1 Ilmu Pemerintahan, saya menyelesaikan program sarjana saya selama 7 masa registrasi dan selesai Tahun 2011 (yudisium dan wisuda periode Tahap 1 April 2012) agak telat memang karena saya sempat tidak registrasi selama 3 masa registrasi karena kondisi kesehatan dan dipindah tugaskan ke daerah terpencil yang cukup jauh dan tidak terjangkau jaringan komunikasi saat itu. Namun syukurlah dengan semangat yang tetap kuat, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan studi saya yang mungkin buat orang lain bekerja sambil kuliah itu tidaklah mudah (bukan kuliah sambil bekerja), tapi menurut saya itu adalah sebuah cobaan dan tantangan.

IPK saya 3,19, memang tidak cumlaude, tapi saya bangga bahwa dengan sistem kuliah jarak jauh dan belajar mandiri, saya mampu mematahkan asumsi orang banyak terutama di daerah saya bahwa “UT.. masuk gampang keluar susah”. Ini adalah sebuah pencapaian dan nikmat luar biasa yang Allah anugerahkan dan patut saya syukuri. Saya pribadi sangat salut dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh UT, dan yang paling penting untuk diketahui oleh mahasiswa UT adalah membaca!! Ya.. Buku Materi Pokok (BMP) yang lebih dikenal oleh kita sebagai modul UT adalah Dosen, Tutor, Pembimbing dan teman kita dalam mempersiapkan diri menghadapi UAS, soal-soal yang diujiankan tidak pernah keluar dari materi-materi yang ada di dalamnya. Dengan membaca dan membaca buku materi pokok tersebut, saya yakin nilai di UT itu tidak akan sesulit yang kita bayangkan. Tidak ada gading yang tak retak, saya sadari dan rasakan bahwa tentunya masih ada perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan kedepannya oleh UT sendiri mengingat kedepan kompleksitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan lebih menantang dan penuh hambatan, but, overall UT is The Best.

Termotivasi dari itu semua, saya mencoba untuk merubah sedikit demi sedikit pencitraan buruk khalayak di daerah saya terhadap UT yang walaupun tentunya ini tidak mudah. Saya membentuk Kelompok Belajar Mahasiswa Non-Pendas Kabupaten Sumbawa Prodi S1 Ilmu Pemerintahan untuk mengajak mahasiswa yang telah ada dan merekrut mahasiswa baru untuk berbuat bersama-sama bagi UT dan daerah. Pada tahun 2010, saya hanya bisa mengumpulkan 15 orang, dari 15 orang ini kami berupaya untuk melakukan yang terbaik melalui belajar kelompok, mengajukan tutorial ATPEM dan mencoba melakukan Tutorial Online, alhasil harapan positif itu tercapai. Dari pengalaman 15 orang inilah kami mencoba untuk bergerak lebih luas dan pada 2011 kami bisa mengajak lebih banyak lagi yaitu sekitar 50 orang saat itu. Demikian seterusnya pada tahun berikutnya kami mencoba membuka Prodi baru S1 Ilmu Komunikasi. Kesimpulannya adalah dengan niat, usaha daan doa semuanya pasti bisa diwujudkan. Jaringan yang kami gunakan adalah face-to-face and door-to-door dari mahasiswa-mahasiswa yang kami rekrut. Kalau boleh dianalogikan seperti jaringan level-level pada usaha-usaha MLM (Multi Level Marketing). Upaya lain yang kami lakukan adalah ikut aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti gotong royong, gerak jalan, seminar, dan forum-forum lainnya untuk memperkenalkan UT lebih luas kepada masyarakat, karena selama ini yang lebih dikenal oleh masyarakat kami hanyalah PENDAS UT yaitu S1 PGSD dan S1 PGPAUD. Dari Pokjar PENDAS itulah muncul penafsiran negatif terhadap UT, sehingga dari itu kami mulai membangun perlahan demi perlahan kepercayaan publik terhadap UT dan kepengurusan yang kami tumbuhkembangkan. Alhamdulillah sampai dengan saat ini mahasiswa non pendas UT di Pokjar Non-Pendas Kabupaten Sumbawa sudah berjumlah lebih dari 100 orang.

Kedepan kami akan berusaha untuk mempromosikan program studi lain seperti S1 Hukum dan S1 Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemah. Karena saya sangat tertarik dengan bahasa inggris dan mengingat Sumber Daya di bidang penerjemah di daerah saya bisa dibilang belum ada, dan untuk menjawab tantangan globalisasi dan ASEAN Community 2015mendatang, maka mau tidak mau, suka tidak suka masyarakat kita harus mampu berkomunikasi dengan mayarakat internasional, dari itu saya bergabung kembali ke UT pada program studi S1 Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemah pada 2013.2 lalu.

Untuk terus mengembangkan diri saya pribadi dan komunitas serta daerah saya khususnya, berkat dukungan dan doa dari keluarga, rekan-rekan di Pokjar dan Rekomendasi dari Civitas UT ( Terutama Bapak Dr.Daryono, Ph.D Dekan FISIP UT, Bapak Boedhi Oetoyo Eks-PD III FISIP UT Kepala UPBJJ-UT Bogor sekarang, rekan-rekan di UPBJJ-UT Mataram ) dan tentunya Pemerintah Daerah tempat saya mengabdi, saya berencana untuk melanjutkan Studi Pasca Sarjana melalui skema Beasiswa Australia Awards Scholarships Program Master of Public Policy di salah satu Universitas di Australia Tahun 2014 mendatang, mudah-mudahan lancar, sesuai dengan harapan dan dikabulkan oleh Allah S.W.T.. Aamiin.

Mudah-mudahan tulisan saya di atas tidak sedikitpun mengandung unsur membanggakan diri, sombong, berlebihan dan takabur, dari lubuk hati yang paling dalam saya dengan niat tulus dan ikhlas semata-mata untuk menginspirasi dan memotivasi diri dan kita bersama untuk terus dan terus melakukan yang terbaik yang kita bisa, karena saya sangat yakin bahwa baik yang kita kerjakan maka hasil dan dampak yang akan kita terima pasti akan baik juga. Salam sukses untuk kita semua!! (Emba, S.IP - Unter Iwes, Sumbawa, NTB-Indonesia )